Perampokan Bertahu (part 2)
Cerita sebelumnya : Perampokan Bertahu
Kapten sedang galau. Dia merasa tak bisa memenuhi permintaan para perampok untuk mendatangkan Westlife. Bukan masalah biaya, tapi sepertinya nggak mungkin untuk mendatangkan mereka dalam waktu singkat.
Karena konon itu butuh waktu berbulan-bulan untuk deal soal macem-macem. Mulai dari harga, kostum, lokasi sampai dengan masalah jaminan keamanan. Pokoknya ini bahkan lebih ribet daripada acara sunatan massal bapak-bapak pensiunan yang lagi puber kedua.
“Jadi gimana ini, Kapt?” Sersan bertanya pada Kapten yang berjalan mondar-mandir sambil garuk-garuk kepalanya yang botak di tengah. “Jangan diem aja dong, kapten. Mikir dong ah! Daritadi malah diem mulu.”
Bletak!
Kepala Sersan disambit Kapten pake pentungan.
“Ini dari tadi saya dari tadi udah mondar-mandir cari ide. Kamu ngomong sembarangan lagi, saya turunin beneran nih pangkat kamu!”
“Diturunin jadi jenderal ya, Kapt.”
Bletak!
Kali ini borgol yang melayang tepat ke jidat Sersan.
“Saya turunin jadi hansip! Mau?” Kapten mendengus kepada Sersan yang tiarap takut dikeplak lagi.
Melihat kebingungan itu, Popokman mencoba memberikan saran kepada Kapten. “Gimana kalo saya langsung serbu aja, Pak? Saya abisin tuh orang semua, saya unyel-unyel sampe bulu idungnya rontok merata.”
“Jangan!” Kapten berteriak panik.
“Lho, jangan kenapa?” Popokman bertanya bingung.
Kapten terdiam.
“Jadi gini, sebelum kamu datang, kita sudah bernegosiasi dengan para perampok. Dan mereka mengancam akan membunuh Sara kalau ada penyerangan tiba-tiba.”
Mendengar nama pujaannya terancam begitu, Popokman langsung emosi. “Kurang ajar! Tidak bisa dibiarkan! Saya harus masuk ke dalam, Pak!”
“Pok, sabar, Pok!” Kapten dengan dibantu Sersan mencoba menahan laju Popokman yang terlihat emosi dan penuh nafsu.
“Lepaskan! Lepaskan saya! Saya mau ke sana!”
“Jangan, Pok. Jangan!” Kapten berteriak. Dalam sekejap, ada sekitar empat orang polisi selain Kapten dan Sersan yang mencoba menahan langkah Popokman dengan kepayahan. Karena memang tenaga Popokman bahkan lebih kuat dari satu batalyon tentara berkuda.
Tak mau ada yang terluka, Popokman menahan kekuatan supernya dan memilih untuk mengalah. “Gini lho, Pak. Saya Cuma mau ke sana. Noh sana noh..”
Popokman menunjuk ke arah toilet umum di samping gedung BanK Kotan.
“Saya kebelet pipis dari tadi nih. Doooh.”
“Oooooh..” Kapten dan polisi-polisi yang lain garuk-garuk kepala, salah tafsir. Popokman lalu ngacir secepat kilat ke toilet yang dimaksud.
Setelah pipis, ternyata Popokman mendapatkan ide cemerlang untuk mengakali permintaan perampok-perampok itu.
“Pak Kapten! Saya punya ide.”
“Wuah, apa itu?” Kapten tertarik. Polisi-polisi yang lain juga ikut mengerubungi Popokman untuk menyimak.
“Gimana kalo... Gimana kalo yang jadi westlife itu, mereka aja?” Kata Popokman sambil menunjuk Sersan dan beberapa polisi lainnya, hingga pas berjumlah lima orang. Mereka yang ditunjuk cuman bisa pasrah sambil mangap.
“Emang nggak bakal ketahuan?” Kapten sedikit ragu.
“Ya didandanin dong, Pak. Semirip mungkin. Paling sejam juga udah bisa pada mirip westlife. Westlife cabang Condet lebih tepatnya.”
“Hmm.. dipikir-pikir masuk akal sih. Bolehlah. Tapi.. setelah itu lalu gimana?”
“Jadi.. setelah mereka masuk, saya akan.. psssst psssst psssst pssssst...”
"Oh gitu, jadi psssst psssst pssssst..."
* * *
Sejam kemudian...
“Kok mereka... mirip penyanyi dangdut, Pok?” Kapten menepok jidatnya melihat anak buahnya didandanin dengan rambut mirip kuas cat kering.
“Err.. iya sih, Pak. Mereka mirip.. grup dangdut kurang make up.” Popokman manggut-manggut. “Tapi jangan kuatir, Pak. Nanti kita matiin aja aliran lampu di lokasi, sesaat sebelum mereka masuk. Jadi mereka bisa sedikit tersamarkan.”
“Kamu yakin, Pok? Apa nanti mereka nggak marah?” Kening Kapten berkerut.
“Tenang aja, Pak. Kayak nggak pernah tinggal di Indonesia aja.” Popokman nyengir. “Bilang aja itu emang mati lampu.”
“Oh.. Okay.” Kapten masih tampak kurang yakin.
Mereka semua yang ada di tempat itu, semuanya ikutan nyengir. Nyengir getir lebih tepatnya. Ada banyak keraguan dalam hati mereka masing-masing. Karena ini jelaslah bukan misi main-main. Ada banyak nyawa yang dipertaruhkan, dan mereka harus percaya dengan rencana Popokman yang terdengar... konyol.
“Saya tahu apa yang Bapak-bapak pikirkan. Tapi percaya sama saya. Saya janji, takkan ada yang terluka di sini.” Kata Popokman sambil tersenyum bijak.
Polisi-polisi itu lalu ikut tersenyum. Merasa sedikit tenang dengan apa yang dikatakan Popokman barusan.
“Wow Popokman emang keren.” Bisik Sersan ke teman sebelahnya yang ikut manggut-manggut.
Mendadak Popokman merasa celana dalamnya nyelip, dan berusaha membenahinya sambil garuk-garuk. Popokman nyengir-nyengir keenakan.
“Oh, okay. Gue tarik kata-kata gue barusan.” Sersan langsung berniat mandi wajib setelah melihat pemandangan barusan.
To be continued..